Sabtu, 16 April 2016

LITERATUR

08.24 0 Comments

Literatur adalah bentuk ekspresi manusia yang terorganisir dalam bentuk tulisan maupun rekaman lain yang mengandung unsur pengembangan dan dapat dipahami orang lain.

Dari satu sisi, literatur dibagi menjadi litertur fiksi dan literatur non fiksi. 

Litertur fiksi adalah karya yang berupa ekspresi emosi dan bersifat khayalan, rekaan, khayalan penciptanya. Jadi karya itu tidak terjadi di alam nyata ini. Oleh karena itu, apabila terjadi kesamaan kejadian, nama orang, maupun nama tempat hal itu hanya kebetulan saja.

Literatur nonfiksi merupakan karya intelektual yang disusun dengan sistem tertentu sesuai pedoman yang telah ditentukan. Karya nonfiksi ini dapat berupa buku, artikel jurnal, laporan penelitian, maupun karya akademik.

Dalam hal pembagian lietratur ini, William A. Kat (1978)membagi literatur menjadi literatur primer, literatur sekunder, dan litertur tersier.

Litertur primer adalah karya yang bersumber pada pemikiran asli/ original thinking seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dan lainnya. Karya ini bukan terjemahan, ringkasan, komentar, maupun petunjuk pada literatur lain. Kerya ini biasanya menjadi sumber utama bagi pemustaka untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Karya ini pula yang mendominasi koleksi pada sebagian besar perpustakaan kita.

Litertur sekunder adalah bentuk karya yang merupakan petunjuk, penafsiran, ringkasan, maupun evaluasi terhadap litertur primer. Bentuk literatur ini antara lain katalog, indeks, abstrak, bibliografi, resensi, dan lainnya.

Literatur tersier adalah literatur yang menunjukkan, menafsirkan, atau menilai literatur sekunder. Bentuk literatur ini antara lain bibliografi dari bibliografi dan katalog induk.

Sesuai perkembangan teknologi informasi, maka bentuk literatur tersier ini dapat berupa database maupun jaringa kerjasama antar perpustakaan. Pada jaringan ini terkumpul katalog/daftar katalog dari beberapa perpustakaan.


Sumber : Ringkasan
              Buku Materi Pokok "Penyusunan Artikel dan Publikasi Sekunder" Modul 9.

Selasa, 15 Maret 2016

PANEN PADI TELAH TIBA

06.59 0 Comments
"Libur telah tiba, libur tlah tiba, hatiku gembira." Nyayian itu selalu didendangkan oleh anak-anak  ketika masa libur sekolah telah tiba. Namun lain halnya dengan nyanyian para petani sekarang ini, mungkin syairnya akan seperti ini : "Panen telah tiba, panen telah tiba, hatiku gembira...." :) syair yang berbeda meski dengan nada yang sama. Sama-sama gembira menyambut sesuatu yang ditunggu-tunggu.

Ya, hampir selama kurang lebih tiga bulan, dari mulai memilih bibit padi yang unggul, menyemai, membajak sawah, menanam bibit atau orang sunda biasa menyebutnya tandur, memupuk padi, sampai pada akhirnya sampai pada proses memanen padi.
                                 Gambar padi yang siap panen : dinaspertaniantph-hss.net

Bukan hal yang mudah atau gampang memang, petani kita selalu direpotkan dengan mahalnya bibit padi dan juga harga pupuk yang setiap tahunnya melonjak naik. Belum lagi proses yang harus dilalui, hama yang terkadang menyerang ditambah harga pembasmi hama yang juga harganya mahal. Cape dan lelah terkadang sering dialami oleh para petani kita, belum lagi cuaca yang sekarang ini semakin tidak menentu, membuat para petani menjadi was-was takut terjadi gagal panen.

Namun semua lelah, letih dan keluh kesah seakan sirna, tergantikan oleh senyum ceria melihat hamparan tanaman padi yang menguning, biji merunduk dan berisi, daunnya melambai-lambai tertiup angin sepoi-sepoi, bagaikan melambaikan tangannya mengajak petani untuk segera menuainya. Senyum sumringah petani meluruhkan lelahnya penantian, kini tiba saatnya untuk memanen padi.

Proses panen padi
Gambar : Koleksi pribadi :)

Segala peralatan menuai padi disiapkan : Sabit sebagai alat untukmenyambit tangkai padi, Gebotan adalah alat untuk merontokan padi yang tebuat dari kayu dibuat seperti tong dan di pinggirnya diberi gerigi supaya bulir padi cepat lepas dari tangkainya, karung disiapkan untuk menampung padi, nyiru sebagai alat untuk pembersih padi setelah padi dikeringkan. Dan seabrek peralatan lain yang berguna untuk menunjang kegiatan panen padi.

makanan yang dihidangkan saat sarapan sebelum panen padi

Ritual yang juga tak kalah serunya pada masa panen padi adalah acara makan bersama. Para petani terutama ibu-ibu menyiapkan panganan yang tak biasa, makanan yang enak-enak yang jarang disantap sehati-harinya. Sebelum turun ke sawah sarapan pagi di saung pinggir sawah bersama sanak keluarga "ngariung botram balakecrakan". Sungguh suatu anugerah yang luar biasa diciptakan tuhan dengan anugerah padi, maka suka cita petani begitu kental terasa.

Minggu, 13 Maret 2016

BUNTU

07.26 0 Comments
Buntu !
Itulah penyakit bagi seorang penulis. 
Ide yang sudah membuncah, tiba-tiba terhenti ketika tangan sudah mulai menuliskan rangkaian kata demi kata. Menyebalkan memang ! Huhhh.....
                                                         Photo : kataubaid.com
Lalu kenapa semua ini bisa terjadi ? Banyak faktor yang bisa terjadi. Menurut pengalaman saya ada beberapa alasan kebuntuan ide itu terjadi :
1. Tidak fokus
Ide yang sudah membuncah akan hilang ketika ada suatu hal yang bisa meracaui pikiran. Salah satunya adalah ketika ada pekerjaan lain yang mesti juga diselesaikan. akibatnya pikiran jadi bercabang.
2. Noise atau kebisingan
Kebisingan menjadi faktor yang cukup dominan dalam mengacaukan ide yang mengakibatkan kebuntuan.
Saya memang paling tidak bisa tenang jika melakukan kegiatan dalam situasi yang bising. Buyar....
3. Gangguan
Saya paling sebal jika sedang nulis musti terhenti ketika harus menerima panggilan telpon. Sudah barang tentu ide yang mengalir deras bagaikan air terjun hilang lenyap seketika. Atau ibarat penerjun payung yang gagal mengembangkan parasutnya, brakk...jatuh seketika. Ampun dahhh.....
4. Lelah
Menulis dalam keadaan lelah sering saya alami. Saya selalu memaksakan untuk tetap nulis karena ide sudah melonjak-lonjak di pikiran. Namun, akibat dari kelelahan saya malah suka tiba-tiba tertidur ambruk ketika sedang asik nulis, aneh ya..hihihi
Namun amat disayangkan, ketika mulai terjaga kembali semua ide yang membuncah itu hilang tak berbekas. Dan ketika mencoba untuk merangkai kata-kata kembali, jadi gak nyambung dengan cerita awal.

Sudah barang tentu ada antisipasi yang saya lakukan supaya beberapa faktor kebuntuan seperti dituliskan diatas  tidak terjadi.
Antisipasinya diantaranya :
1. Fokus
Selesaikan dulu PR lain, baru nulis. atau mungkin juga buat pekerjaan itu dibuat sebagai ide untuk nulis.
2. Hindari kebisingan
Mesti nulis dikuburan gitu ?....hahahah. Gak juga kali, maksudnya, setidaknya cari tempat yang lebih sunyi supaya bisa konsentrasi.
3. Jauhkan Handphone dan barang-barang lain yang akan menggangu aktifitas nulis
Kalau saya sih handphone sering di matikan atau setidaknya di silent. Akibatnya begitu selesai nulis, Handphone di nyalakan kembali, beberapa panggilan, sms, WA, BBM merudul gak karuan..hihihi
4. Bugar
Ide memang bisa datang pada saat tak terduga, bahkan ketika badan tengah lelah. Namun usahakan pulihkan dulu badan sampai terasa bugar, lalu mulailah menulis.

So mengalami kebuntuan saat menulis memang hal yang sering dialami oleh banyak penulis. Oleh penulis profesional sekalipun. Jangan paksakan, jika pada akhirnya hasilnya takan memuaskan dan keluar konteks. 

Atau bisa jadi, buat kebuntuan itu jadi sumber inspirasi buat nulis. Seperti yang dikatakan oleh mas Fauzi seorang "guru" saya di FB. Teruslah menulis dan menulis, torehkan tintamu, jadikan dirimu seorang writer yang produktif. Salam buat Mas Fauzi :)
















Minggu, 28 Februari 2016

Pustakawan punya cerita

07.25 1 Comments
Bagi saya menekuni dunia perpustakaan adalah sebuah pilihan. Tapi bukan suatu pilihan yang datang secara instan. Butuh proses lama untuk akhirnya jatuh hati kepada pilihan ini. Pilihan yang bagi sebagian orang bahkan dikatakan "profesi yang masih rendahan". Menjadi seorang pustakawan memang bukan pilihan yang populer. Tak banyak orang yang tau dan kenal dengan profesi ini.

Bagi sebagian orang yang suka, rajin atau mungkin pernah datang ke perpustakaan pasti tau dengan sosok seorang pustakawan. Ada sebagian orang yang terlanjur menjudge seorang pustakawan itu judes, kuper, gak gaul, berkacamata tebal, hari-harinya cuma dihabiskan dengan ngurusin buku, buku dan buku. Apakah memang benar seorang pustakawan seperti itu ? lalu kenapa saya tertarik dengan profesi itu ? bukankah masih banyak profesi lain yang lebih keren, semisal polwan, dokter, atau juga artis, poto model, atau mungkin seorang guru ?

Ya, sewaktu kecil, layaknya anak-anak lain, saya juga memiliki cita-cita yang setinggi langit. Bahkan memang benar, cita-cita saya ingin menjangkau langit. Saya bercita-cita menjadi astronot. Suka pengen senyum-senyum sendiri bila teringat akan cita-cita itu. :)
Saya ingin tau bagaimana bentuk langit yang selalu saya pandangi setiap pagi, juga penasaran dengan bentuk bintang yang selalu kuhitung di malam hari. Apakah benar cerita nenek kalau di balik rembulan itu ada nenek anteh yang sedang menenun ? Ah terlalu banyak hal yang ingin saya ketahui akan banda-benda atau mahluk-mahluk yang ada di atas sana. Tentang awan-awan yang sepertinya berjalan beriringan, atau bintang yang sepertinya mempunyai lampu, kelap kelip. Saat itu saya ingin tau semuanya.

Ayah dan ibu hanya tersenyum-senyum ketika saya mengutarakan akan cita-cita dan semua kepenasaranan saya itu. "Ya sudah..kamu sekolah saja yang bener ! gak usah kepingin macem-macem, jangan berhayal ketinggian. Astronot itu gak ada di negara kita adanya diluar negeri sana. Yang ada dilangit dan di bumi itu semua ciptaan gusti Alloh nak, kamu gak usah terlalu banyak ingin taunya." itu lah jawaban kedua orang tuaku. Jawaban yang tak cukup membuyarkan keingintahuan saya.

Di sekolah, guru memang mengajarkan sedikit tentang semua itu.

Akhirnya perpustakaanlah tempat saya mengobati dahaga akan semua pertanyaan-pertanyaan yang selalu membuncah dikepala. Disanalah saya mengetahui semuanya, lewat buku-buku itu saya mengetahui jawabannya. Perpustakaan menjadi tempat favorit saya. Dan pada akhirnya buyarlah keinginan untuk menjadi seorang astronot. Selain karena biayanya yang teramat mahal, sekarang saya sudah tau bagaimana keadaaan langit, tentang rembulan, awan dan juga matahari. :D

Dan anggapan orang tentang pustakawan yang kuper, gak gaul, judes dan berkacamata tebal, sama sekali tak pernah saya jumpai. Ya karena semenjak SD, SMP dan SMA. Perpustakaannya memang gak ada pustakawannya. :D

Dari sanalah saya mulai berfikir dan bercita-cita menjadi seorang pustakawan. Saya ingin membantu mereka yang haus akan informasi untuk bisa menyediakan, melayankan, sekaligus membimbingnya. Membuat mereka puas akan informasi yang mungkin tak bisa mereka dapatka dibangku sekolah, atau mungkin mereka tak mampu untuk membelinya buku ditoko-toko buku.

Dan disini, di perpustakaan, semua itu bisa mereka dapatkan.

Saya ingin menghapus imej pustakawan yang kuper, gak gaul, judes dan bla...bla...bla.
Apalagi saya mempunyai role model, tutor-tutor saya saat di bangku kuliah yang kebanyakan adalah sarjana ilmu perpustakaan, mereka kece, pinter, modis, gaul dan bisa dibilang perfect.

Jadi who is the next librarian ? let's join with me :)
It is a great option.




Follow Us @soratemplates